Assalamu'alaikum,
"Mi Gavin kan udah punya Sideswipe, tapi belum punya yang Steeljaw". Duh, keluar juga deh kata-kata itu. Ucapan Gavin yang tidak dinanti-nanti mami. Hiks, karena itu adalah permintaannya supaya dibelikan mainan lagi. Ya kan, gitu deh repotnya beli mainan tokoh film, mainannya itu biasanya nggak cuma satu macem, tapi serombongan. Banyak sodara-sodaranya.
Padahal sudah ada kesepakatan sama Gavin, kalau dibeliin, nanti nggak minta yang lainnya lagi. Saya pun berulangkali meyakinkannya tentang Sideswipe- robot plastik yang merupakan salah satu personil Transformer yang terakhir dibelinya. "Bener ya Gavin pilih Sideswipe, janji nanti nggak minta dibeliin lagi", bolak-balik saya tanya lagi. Oke, hari-hari pertama masih aman, tapii... lewat seminggu, rayuan-rayuan manisnya mulai digencarkan lagi. Nah kalau sudah begini, maminya segera memulai kultum untuk Gavin. Kuliah tujuh puluh menit.
Mainan memang merupakan salah satu media pendukung tumbuh kembang anak. Oleh karenanya, saya pun sebenarnya tidak keberatan untuk membelikannya. Tetapi dengan berbagai asumsi, misal, sudah lama tidak beli mainan, sudah mendahulukan kewajiban, budgetnya ada, awet atau tidaknya mainan dibandingkan dengan harganya, tidak memberikan dampak negatif dan lain sebagainya.
Namun Gavin yang beranjak lima tahun, semakin besar dan mulai merasakan geliat hati sifat manusia yang ingin memiliki berbagai macam benda kesukaan. Bukan butuh, tetapi ingin. Disinilah saya dan suami sebagai orang tuanya harus bisa memberikan penanaman moral tentang batasan terhadap suatu keinginan. Karena kami tentu tidak dapat selalu mewujudkan apa yang diinginkannya.
Pertama, bahwa ada banyak kewajiban yang harus ditunaikan. Ada keterbatasan dari orang tua yang tidak selalu dapat meluluskan setiap permohonannya. Sering sekali bila ia rewel menginginkan suatu mainan, kemudian tidak sengaja ia melihat saya meletakkan uang kembalian belanja tergeletak, ia pun mengatakan, "Itu ada Mi uangnya". Saya kemudian menjawab, "Iya Nak, ini mami punya uang, tapi mami harus bayar listrik, bayar uang sekolah Gavin, bayar iuran RT. Gavin mau gara-gara uangnya habis beli mainan, mami nggak bayar listrik, nanti nggak bisa nyalain AC?". Ia pun segera menggelengkan kepalanya dan terpaksa mengerti bahwa belum saatnya minta dibelikan mainan lagi. Rengekan berakhir. Kalau lagi nggak mau ngerti? mending maminya kabuurr............ (= main petak umpet sampe Gavin lupa sama rewelannya).
Kedua, sesuatu yang kita inginkan itu harus diwujudkan dengan usaha. Papi bisa membelikan Gavin mainan, karena papi mendapat uang dari bekerja. "Nak, lelah papimu bekerja, berangkat pagi pulang malam, satu bulan lamanya, barulah balas jasa dari perusahaan dapat kita nikmati". "Gavin kan baru beli mainan, bersyukur ya, mainannya dipakai, dirawat. Nanti kalau mau beli mainan baru, Gavin nabung dulu", saya menjelaskan bahwa papinya bisa memperoleh uang karena ada usaha yang telah dilalui.
Maka saya juga mulai menerapkan sistem reward kepada Gavin untuk hal-hal kecil yang bisa dikerjakannya sendiri, misal makan sendiri sampai habis. Nanti setiap dapet uang reward untuk ditabung, pasti deh uang-uang lama yang sudah masuk celengan duluan dihitung lagi semua. Model celengannya Gavin pakai gembok yang bisa dibuka. Jadi setiap nabung, maunya buka gembok kemudian uang yang sudah masuk dicek lagi dari ulang. Nggak cape ya?
Ketiga, lihat apa yang sudah Gavin miliki. Kadang kalau lagi senewen, langsung deh saya nyerocos panjang lebar, ini nih mainan-mainan Gavin, yang ini berapa, yang ini berapa. Sambil nunjukkin mainan-mainan di rumah. Maksudnya memberitahukan padanya berapa uang yang sudah terpakai untuk membeli mainan yang ada. Bukan maksud perhitungan dengan anak, tetapi saya mau ia tahu, ini loh nak yang sudah kamu punya, apa yang kamu miliki sudah lebih besar nilainya dari mainan baru yang Gavin inginkan. "Bersyukurlah anakku, ucapkan Alhamdulillah atas rezeki Yang Maha Kuasa untukmu".
Itulah hidup, penuh keterbatasan. Tidak selalu harus memiliki apa yang kita inginkan. Tidak melulu setiap waktu membelikan mainan anak. Semua ada batasnya, semua ada bagiannya. Dengan keterbatasan inilah, kita ajarkan kepadanya untuk bersyukur atas rezeki dari Allah SWT, untuk bersyukur atas ayah/ibu yang setiap hari bersusah payah di luar untuk menghidupi keluarganya, untuk bersyukur terhadap nikmat-Nya pada kita yang tidak sama pada setiap hamba-Nya, untuk bersyukur bahwa setiap nikmat-Nya akan terasa lebih nikmat setelah digapai dengan usaha. Maka niscaya sang pencipta akan menambah nikmat untuk hamba-Nya bagi mereka yang bersyukur.
Dengar petuah ibu ya Nak, dengan keterbatasan kita bersyukur. Wassalam.
Baca juga tulisan mak Mira Sahid: Menikmati Keterbatasan
Be happy,
@deravee
- Tulisan untuk ~ Collaborative Blogging ~ Kelompok 3 Kumpulan Emak Blogger (KEB)