Nak, dengar petuah Ibumu ya?

Wednesday, August 10, 2016

family blogger

Assalamu'alaikum,
"Mi Gavin kan udah punya Sideswipe, tapi belum punya yang Steeljaw". Duh, keluar juga deh kata-kata itu. Ucapan Gavin yang tidak dinanti-nanti mami. Hiks, karena itu adalah permintaannya supaya dibelikan mainan lagi. Ya kan, gitu deh repotnya beli mainan tokoh film, mainannya itu biasanya nggak cuma satu macem, tapi serombongan. Banyak sodara-sodaranya.

Padahal sudah ada kesepakatan sama Gavin, kalau dibeliin, nanti nggak minta yang lainnya lagi. Saya pun berulangkali meyakinkannya tentang Sideswipe- robot plastik yang merupakan salah satu personil Transformer yang terakhir dibelinya. "Bener ya Gavin pilih Sideswipe, janji nanti nggak minta dibeliin lagi", bolak-balik saya tanya lagi. Oke, hari-hari pertama masih aman, tapii... lewat seminggu, rayuan-rayuan manisnya mulai digencarkan lagi. Nah kalau sudah begini, maminya segera memulai kultum untuk Gavin. Kuliah tujuh puluh menit.

Mainan memang merupakan salah satu media pendukung tumbuh kembang anak. Oleh karenanya, saya pun sebenarnya tidak keberatan untuk membelikannya. Tetapi dengan berbagai asumsi, misal, sudah lama tidak beli mainan, sudah mendahulukan kewajiban, budgetnya ada, awet atau tidaknya mainan dibandingkan dengan harganya, tidak memberikan dampak negatif dan lain sebagainya.

Namun Gavin yang beranjak lima tahun, semakin besar dan mulai merasakan geliat hati sifat manusia yang ingin memiliki berbagai macam benda kesukaan. Bukan butuh, tetapi ingin. Disinilah saya dan suami sebagai orang tuanya harus bisa memberikan penanaman moral tentang batasan terhadap suatu keinginan. Karena kami tentu tidak dapat selalu mewujudkan apa yang diinginkannya.

Pertama, bahwa ada banyak kewajiban yang harus ditunaikan. Ada keterbatasan dari orang tua yang tidak selalu dapat meluluskan setiap permohonannya. Sering sekali bila ia rewel menginginkan suatu mainan, kemudian tidak sengaja ia melihat saya meletakkan uang kembalian belanja tergeletak, ia pun mengatakan, "Itu ada Mi uangnya". Saya kemudian menjawab, "Iya Nak, ini mami punya uang, tapi mami harus bayar listrik, bayar uang sekolah Gavin, bayar iuran RT. Gavin mau gara-gara uangnya habis beli mainan, mami nggak bayar listrik, nanti nggak bisa nyalain AC?". Ia pun segera menggelengkan kepalanya dan terpaksa mengerti bahwa belum saatnya minta dibelikan mainan lagi. Rengekan berakhir. Kalau lagi nggak mau ngerti? mending maminya kabuurr............ (= main petak umpet sampe Gavin lupa sama rewelannya).

Kedua, sesuatu yang kita inginkan itu harus diwujudkan dengan usaha. Papi bisa membelikan Gavin mainan, karena papi mendapat uang dari bekerja. "Nak, lelah papimu bekerja, berangkat pagi pulang malam, satu bulan lamanya, barulah balas jasa dari perusahaan dapat kita nikmati". "Gavin kan baru beli mainan, bersyukur ya, mainannya dipakai, dirawat. Nanti kalau mau beli mainan baru, Gavin nabung dulu", saya menjelaskan bahwa papinya bisa memperoleh uang karena ada usaha yang telah dilalui.

Maka saya juga mulai menerapkan sistem reward kepada Gavin untuk hal-hal kecil yang bisa dikerjakannya sendiri, misal makan sendiri sampai habis. Nanti setiap dapet uang reward untuk ditabung, pasti deh uang-uang lama yang sudah masuk celengan duluan dihitung lagi semua. Model celengannya Gavin pakai gembok yang bisa dibuka. Jadi setiap nabung, maunya buka gembok kemudian uang yang sudah masuk dicek lagi dari ulang. Nggak cape ya?

Ketiga, lihat apa yang sudah Gavin miliki. Kadang kalau lagi senewen, langsung deh saya nyerocos panjang lebar, ini nih mainan-mainan Gavin, yang ini berapa, yang ini berapa. Sambil nunjukkin mainan-mainan di rumah. Maksudnya memberitahukan padanya berapa uang yang sudah terpakai untuk membeli mainan yang ada. Bukan maksud perhitungan dengan anak, tetapi saya mau ia tahu, ini loh nak yang sudah kamu punya, apa yang kamu miliki sudah lebih besar nilainya dari mainan baru yang Gavin inginkan. "Bersyukurlah anakku, ucapkan Alhamdulillah atas rezeki Yang Maha Kuasa untukmu".

Itulah hidup, penuh keterbatasan. Tidak selalu harus memiliki apa yang kita inginkan. Tidak melulu setiap waktu membelikan mainan anak. Semua ada batasnya, semua ada bagiannya. Dengan keterbatasan inilah, kita ajarkan kepadanya untuk bersyukur atas rezeki dari Allah SWT, untuk bersyukur atas ayah/ibu yang setiap hari bersusah payah di luar untuk menghidupi keluarganya, untuk bersyukur terhadap nikmat-Nya pada kita yang tidak sama pada setiap hamba-Nya, untuk bersyukur bahwa setiap nikmat-Nya akan terasa lebih nikmat setelah digapai dengan usaha. Maka niscaya sang pencipta akan menambah nikmat untuk hamba-Nya bagi mereka yang bersyukur.

Dengar petuah ibu ya Nak, dengan keterbatasan kita bersyukur. Wassalam.

Baca juga tulisan mak Mira Sahid: Menikmati Keterbatasan 

Be happy,
@deravee

  • Tulisan untuk ~ Collaborative Blogging ~ Kelompok 3 Kumpulan Emak Blogger (KEB) 


You Might Also Like

36 comments

  1. Subhanallahh mbak... petuahnya ini dapet banget buat mraktekin ke keponakan...
    TFS ya mbaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Rohmah, sama-sama yaa, semoga bermanfaat... makasi udah mampir

      Delete
  2. Hahaha.. so true! Anak2 kalo ngerayu buat dapat mainan adaaaa aja akalnya ya. kalo ditolak bilangnya "bunda ini banyak alasannya..." Astagaaa niru siapa sih ini. Serasa berhadapan sama kaca. #BablasCurcol

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahahah, penasaran sama rayuannya si kembar...iya suka tau2 omongannya sama sama emaknya yah, hadeh :D :D

      Delete
  3. Nice mba dewi, saya juga mulai ingin menerapkan 3 poin diatas, tapi justru kadang saya yang susah karena bertemu anak hanya saat weekend, karena kami tinggal berbeda kota. Jadi saat bertemu saya usahakan apapun maunya saya turuti. bahkan dia gak mintapun saya tawarkan saya belikan. Tapi saya sadar semua itu gak baik, secara tidak sadar saya justru mengajarkan anak untuk manja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi mama Hanaa, semoga bermanfaat...wah iya, pas wiken udah kangen berat:) kalo gavin fase ngga minta apa-apanya udah lewat kali ya hihihi, dan klo rewel biasanya karna ada pemicunya juga, jadi belum tentu betul-betul pingin sesuatu

      Delete
  4. Nice sharing Mak Dewi, saya jadi bisa mulai mempersiapkan strategi kalau sewaktu waktu si kecil mulai masuk fase ini kalau sekarang anak saya masih 2 tahun 10 bulan masih kalem hehe. Thanks ilmunya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi mak Rani, sama-sama :) fase balita emang penuh gejolak ya, hihi, banyak kejutan dari tiap pertumbuhannya. Makasi udah mampir mak

      Delete
  5. kalo Zyan tua banget deh mak, sebelum beli mainan biasanya nanya "Muyya punya uang nggak?Zyan mau beli itu?" sambil nunjuk boneka little pony.. kalo aku jawab gak punya uang banyak. dia langsung berdoa " Ya Allah, semoga muyya punya uang banyak biar Zyan bs beli boneka litel pony" padahal itu masih usia 2 tahun lho mak,, ini keren banget ilmunya, TFS ya mak Dew, salam buat Gavin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Titip pesen sama Zyan mak, doain untuk mami Gavin juga ya, hihihi...pinternya Zyan, dewasa banget, siapa lagi yang ngajar kalo bukan Muyyanya ya kann. wah aku mah apah atuh, mau belajar juga sama bu guru Fera dong ;) makasi salamnya mak, disampaikan ya. sun jauh untuk Zyan

      Delete
  6. Inspiratif sekali mbak, terimakasih sudah share. Penting sekali meberikan pengertian-pengertian seperti itu sejak dini pada anak. Semoga postingannya banyak yang baca dan bisa bermanfaat buat banyak orang ^-^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bermanfaat mak, Amin... iya sama-sama mak Ika..iya setuju mak, walaupun kadang kaya angin lalu, tapi semua itu insyaAllah terserap di memorinya dan jadi pondasi buat dirinya nanti

      Delete
  7. bekal nasihat untuk anak saya nanti, thank you udah sharing mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Baiq, semoga bermanfaat yaa....makasih udah mampir (lagi) hehehehe

      Delete
  8. Pantes gavin jd anak yg genius.. punya mami sekeren ini.. punya ide2 brilian unt menghadapi situasi2 apapun yg diciptakan si gavin. Maacih mba ratih unt pencerahan nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh banjir doa nih dari aunty Mey, Amin Amin, semoga Gavin menjadi anak jenius, makasih doanya...moga sukses kaya aunty Mey yaa... Sama-sama Mey, maminya juga masih nyari banyak pencerahan nih hihi

      Delete
  9. wah, membuat kesadaran secara pribadi ke anak2 memang perlu sejak dini ya mb..biar tau melakukan itu dasarnya apa. TFS ya mbak,salam kenal..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal mba Prita.... Iya mba, mudah-mudahan bisa masuk ke anaknya ya... Trims kunjungannya :)

      Delete
  10. Anakku saya kalo minta sesuatu entah mainan dsb, alhamdulillah lebih banyak ngertinya. Mungkin memang ortunya lebih sering ngajak komunikasi. Kasih pengertian ke anaknya, kenapa tidak beli mainan ini, atau boleh beli mainab tapi harus nabung dulu dsb. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pinter-pinter ya mba, Alhamdulillah, semoga bisa jadi teladan buat temen2nya...harus banyak komunikasi ya, jadi catatan buat aku, tfs mba

      Delete
  11. iya nih kadang kalo anak sudah merayu minta beliin maenan kita suka nggak bisa nolaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. huehe iya mak vety, apalagi klo diajak pergi dan kooperatif, ga tega deh ya...hehehe

      Delete
  12. Anaknya pintar ngerayu, maminya juga harus lebih cerdik, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. maunya gitu trus ya fah, tapi suka kalah set juga xixi

      Delete
  13. MAk dew ibu yang lemah lembut syekaliiiii :') Kalo luna mintanya my little pony. Baru punya twilight sparkle sama rainbow dash, sekarang maunya pinkie pie sama Rarity. Makin banyak personelnya, makin bangkrut emaknyaaaaa x) Kalo aku, yang paling ampuh kalo dibilang, "aduh kaka papa belom gajian, nanati beli mainan kl papa udah gajian ya.." Dan tiap gajian emang kadang aku beliin satu mainan untuk mereka, sambil ngasitau kalo skrg papanya baru gajian jadinya bisa beli mainana. Kalo mau beli mainan lagi, tunggu gajian selanjutnyaaaa. :'D Alhamdulillah ngerti anaknyaaa, kalo dibilang "papa belom gajian kak.."Langsung berenti mereka minta mainan. Hihihihiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uhuhuuyy....selembut sutra apa selembut kapas mak? duh kk Unaa, pinjem donk mt Little Pony-nyaa..iya nih mak, mainannya berseri-seri melulu, rempong ya. Kita sering pake cara itu juga mak, jitu banget kan, hehe, sekalian ngajarin anaknya bisa sabar ya...

      Delete
  14. katanya sistem reward itu juga ngga baik untuk anak. yaa pendapatnya berbeda2 yg penting kita tau tujuannya baik kan ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa jadi mak..mungkin ini hubungannya sama komunikasi anak sama ortu ya.harus jelas apa yang akan di reward,contohnya prestasi. kalau urusan bantu ibu,trus tiap bantuin harus pake reward,ini yang ga baik jadinya mungkin ya

      Delete
  15. Mbak terima kasih sudah mengingatkan. Paragraf paling terakhir ngena banget. Aku bangetttt

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama mak Dwi...sebagai pengingat buat aku jugaa

      Delete
  16. Samaa mak, gak semua permintaan anak dikabulkan. Awal tantrum sih pas gak dibolehin, lama-lama tapi ngerti akhirnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. perlu banyak berguru ni sama mak Indri :-* iya harus kebal dulu pertamanya ya mak,demi kebaikan

      Delete
  17. Bermanfaat... termikasih sharingnya mbak dewi

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama bang Ben..trims sudah mampir

      Delete

Komen aja nggak papa kok jangan malu-malu. Pilih NAME/URL dan isi dengan URL blog ya, jangan url postingan. Terima kasih temaan....

@deravee

Subscribe