Assalamu'alaikum wr.wb,
Di antara pekerjaan-pekerjaan pokok rumah tangga.......
Nyuci piring, masak, nyuci baju, nyetrika...
Kita pasti punya pe'er-pe'er lain yang "mau" dikerjakan, yang kesannya sepele, tetapi dipikirin terus tau-tau pada akhirnya "nggak dikerjakan".
Apaan tuh? Emak-emak mah ada saja biasanya.... contoh,
- mau ngucek baju putih
- mau melipat plastik
- mau beresin lemari makanan
- mau nempelin gantungan
- mau rapihin rak buku
- mau nyortir baju yang udah kekecilan
- mau nyortir mainan
- mau bersih-bersih laci make up
- mau nyuci sepatu
- mau belajar tutorial dandan *eeh ini saya*
Tetapi secara spontan dorongan jiwa setiap bangun tidur pasti nyuci piring dulu disambi masak disambi masukin cucian, pas kelar....??>>>>> keblenger!! Tapi kepalanya masih mikirin tugas-tugas sampingan di atas kapan mau dikerjain, yaaa udah besok lagi ahh....
Padahal padahal... susah itu di benak kita, enggan mau "menyelesaikan" yang printilan tadi, tapi jadi beban terus di otak. Dalam hati bilangnya, kalau udah selesai semua nanti dikerjain deh. Kenyataannya, besok aja yaa... tau-tau besok pun belum tentu dikerjakan karena teorinya berulang kembali. Bahayanya lagi kalau efeknya ke mood, badan lelah, hati bete karena merasa belum beres semuanya.
Coba mak, kita ngerem dulu, tarik nafas, tahan, sisihkan sejenak waktu untuk "memilih". Memilih untuk mengurus apa lagi. Menuntaskan pe-er kecil di atas, sebelum memborong semua pekerjaan. Karena pekerjaan yang pokok seperti cuci piring dan masak, mau dipending 5 menit atau 1 jam puun, mau gak mau harus diselesaikan juga kook... trust me...
Tentang ini pernah saya tulis juga di artikel lama:
**Tapi kan nanti kelamaan malah nggak masak, ga ada makanan dong?
Okelah... jadi begini mak. Semuanya balik lagi ke kita ya. Di sini saya namakan "skala prioritas". Saya hanya ngasih contoh case saja di atas.
Kalau memang harus masak dulu, monggo silahkan. Makanan sudah terhidang, keluarga aman hati tenang. Tetapi kalau masih banyak waktu dan ada pilihan harus apa dulu yang mau dikerjakan, berapa nilai "mendesak"nya tingkat pekerjaan itu, saatnya untuk "break". Break maksud saya, berikan energi untuk raga dan pikiran mengambil tugas-tugas sampingan tadi. Saya sudah coba ini dan hasilnya...
Wah, lega.... bagaikan dahaga yang lepas habis puasa... nikmat.. bahagia..., abis itu dunia terang benderang, pekerjaan yang lain nampak ringan.... insya Allah.
Pelajaran rumah tangga yang dapat saya ambil adalah:
*belajar menentukan skala prioritas
*teori kosong dan isi. Sadari kita sebagai ibu rumah tangga punya space yang terbatas baik batasan tenaga yang dapat habis ataupun otak yang merasa lelah.
Ibarat gelas, ketika kosong masih dapat diisi... tetapi kalau diisi terus menerus, lama-lama tidak muat lagi.
Jika ingin melakukan tugas lain yang dirasa sulit, contoh: pingin melipat plastik, cepat-cepat sisihkan waktu untuk mengerjakannya. Karena kalau sudah numpukkin berbagai pekerjaan berat, pasti yang kecil tapi penting jadi tertunda.
Semoga paham yaa... saya percaya setiap ibu rumah tangga punya strateginya sendiri untuk menuntaskan kewajibannya. Tapii yang paling penting agar mempunyai strategi untuk happy menjalankannya. Jangan lupa juga untuk mengajarkan anak agar peka dalam membantu pekerjaan rumah sejak kecil. Salam satu wajan x) Wassalam.
Love,
@deravee

















