Daftar Persiapan Merantau ke Beijing (1)

Sunday, June 28, 2020

https://www.dewiratihpurnama.com/2020/06/daftar-persiapan-merantau-ke-beijing-1.html
[PEMBUKAAN]

Assalamu'alaikum,
Hai Keluarga Indonesia, semoga sehat dan berbahagia selalu. Bismillah... pada tulisan ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya tentang merantau ke negeri orang. Mohon maaf artikel ini hanya pembukaan sebelum memasuki daftar poin persiapan dan agak melow.

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Ketika kembali memandang foto-foto di Beijing, rasanya kini bagaikan hanya sebuah gambar. Entah nyata atau tidak. Diulang kembali nampak mustahil. Satu tahun kurang 2 minggu kami sekeluarga sempat menapaki suasana baru dalam periode kehidupan di tahun 2019 lalu. Walaupun pada prakteknya kami sering pulang ke tanah air.

Berbulan-bulan saya menanti izin tinggal agar tidak harus terus-menerus pulang karena batas visa turis telah habis. Awal September 2019, akhirnya saya dan Gavin memperoleh izin tersebut. Tahap pertama stay permit berlaku untuk jangka waktu 6 bulan. Sementara papi sebagai kepala keluarga sudah lebih dahulu mendapatkannya pada satu bulan sebelumnya. Alhamdulillah.

Dua minggu kemudian, suami memberi tahu saya bahwa sudah diputuskan dengan pasti bahwa Ia akan kembali ditugaskan di Jakarta. Awal bulan Oktober kami harus bersiap pindahan lagi ke Indonesia. Mendengar kabar itu patah hati rasanya. Ibarat pacaran lagi sayang-sayangnya trus ditinggal. Hiiikkss...

 Baca juga: Merasakan Tinggal di Beijing





Pupus sudah kebanggaan memiliki stay permit, sudah bisa bertransaksi non tunai dengan dompet We-Chat dan Alipay, cita-cita ber-olshop murah meriah di Taobao (*e-commerce Cina seperti Shopee). Juga menikmati sejuknya udara musim gugur setelah melewati musim panas yang menyiksa.

Dan di atas semua itu, buyar sudah perjuangan hati di mana saya sudah berdamai atas hijrah ke negeri Panda ini. Setiap perantau pasti memiliki masa struggle nya masing-masing. Antara saya dan suami, belum tentu sama yang dirasakan. Antara saya dengan ibu-ibu lainnya ataupun dengan anak mahasiswa. Semua punya proses adaptasinya masing-masing. Apa yang sulit bagi saya mungkin saja dinilai ringan bagi orang lain. Pun sebaliknya.

Waktu berangkat ke sana November 2018 sudah memasuki winter atau musim dingin. Proses penyesuaian yang lumayan. Yang berat adalah melalui masa lockdown dalam tanda kutip. Lockdown pertama yang saya rasakan. Bila membandingkankan dengan momen lockdown yang kita rasakan karena Pandemi Korona saat ini.
Lockdown di sana artinya masa di mana saya merasa terkurung, terbekap dinginnya udara, tidak punya teman, tak ada tempat tujuan bercengkerama. Papi Gavin super sibuk. Jelas mendapat tanggung jawab baru di sana, dengan beban yang berbeda. Saya terkurung berdua Gavin. Susah makan, susah bicara, susah keluar. Semua karena "saya masih tidak tahu apa-apa".




Lambat laun keadaan "terkurung" ini tanpa disadari mempengaruhi psikologis saya. Saya merasa sedih, seolah-olah menjadi orang paling sendiri, menangis-nangis, frustasi menghadapi Gavin, juga berubah "rewel" pada suami. Sering marah dan banyak protes.

Begitu sulit menghadapi anak yang emosian dan terus-terusan minta pulang. Karena Gavin belum menerima harus pindah sekolah. Setelah beberapa bulan kemudian pun masih tidak mudah. Bolak-baliknya kami ke Indo membuat Gavin labil. Kekecewaannya belum juga sirna, kalau kita bisa pulang, ya sudah nggak usah ke Beijing lagi, begitu kira-kira perasaannya. Kerap kali Gavin memusuhi saya dan suami karena hal ini.

Efek pada saya dan Gavin sebetulnya sama. Karena apa? karena kami tidak bergaul, tidak dapat mengekspresikan diri, dan terkunci di dalam apartemen. Kami tidak dapat keluar karena terlalu dingin, tidak menguasai bahasa Mandarin, serta tidak ada tempat yang dituju. Semuanya tersumbat di kepala menjadi tekanan batin, halu dan depresi. 

Mengenai istri sesama teman sejawat, kebetulan hanya ada satu keluarga Indo yang sama-sama ditugaskan ke Beijing. Kendala mobilitas dan lainnya membuat saya hanya sempat bertemu satu kali waktu itu.

Ada masanya juga saat visa habis, waktunya tidak berbarengan dengan suami dan kami harus berpisah beberapa saat. Antara Bekasi dan Beijing. Kenapa nggak LDR saja kalau gitu? Kan papi juga masih bolak-balik, mungkin teman-teman akan berpikiran begitu.


 

Betul... Saya pun pertama kali menjalani LDR tipis-tipis. Terpisah antara satu sampai dua minggu. Paling lama sekitar satu bulan atau lebih sedikit. Alhasil, cukup sulit bagi saya ketika hanya berdua anak di tanah air, menghadapinya sendiri dengan masalah di atas. Tambahan lagi setiap kali pulang ke Indo atau kembali ke Beijing tentu mengurus koper, persediaan makanan di sana-sini serta kebersihan rumah di dua negara. Lelah.

Sulit juga untuk lancar berkomunikasi dalam "takaran" saya pribadi dengan kesibukan suami di sana. Yang kerap membuat hati lagi-lagi terbawa perasaan. Papi pun kewalahan soal makan serta kebutuhan lainnya saat kami LDR. Saya simpulkan LDR itu susah. Kalau gitu tidak apa-apa bolak-balik terus, repot asalkan masih bisa bersama-sama.  

Lambat laun kesedihan itu pergi. Setelah satu bulan pindah, Gavin pun mulai sekolah. Kami juga sudah berkenalan dengan beberapa orang teman. Saya pun mulai janjian bertemu dan mengunjungi tempat-tempat menarik di Beijing. Ah senangnya ketika sudah mempunyai kawan tempat mengaduh dan berbagi semak belukar yang sama.

 
Pada akhirnya semua tidak sesulit semula. Bulan demi bulan berlalu. Merasakan keindahan alam dalam 4 musim yang berbeda adalah nikmat dari-Nya. Memiliki teman rasa keluarga adalah anugerah. Menjalani pergolakan batin yang jatuh bangun adalah bekal hidup. Kami sangat mensyukuri akan petualangan yang Allah berikan. Alhamdulillah...

'......dan di titik itulah sang pencipta kembali menggoreskan cerita lainnya. Saatnya kami kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Dear Beijing, selamat tinggal, titip jejak kakiku yang pernah menari di sana. Wassalam.' 


Love,
deravee           

You Might Also Like

6 comments

  1. Memang kalo pindah ke negara lain apalagi pertama kali biasanya bingung ya mbak. Ngga ada tetangga yang kenal, apalagi kalo bahasa lokal tidak bisa, tambah ribet.

    Alhamdulillah sekarang sudah mulai bisa menikmati tinggal di Beijing ya. Ngomong ngomong bagaimana orang Beijing memandang orang Indonesia mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul mas Agus... dan waktu dateng itu udaranya udah dingin banget, mau nggak mau sosialisasi juga tertunda karna masih ga terbiasa. Alhamdulillah lama-lama bisa menyesuaikan diri. Dari pengalaman aku, beberapa kali orang sana nebak saya dari Malaysia, kalau yang tahu Indonesia yang memang suka traveling keluar negri juga biasanya, kenal Bali dan Jakarta aja, ada juga yang nggak ngerti Indo itu di mana

      Delete
    2. Kenapa orang luar negeri kalo bilang Indonesia tahunya pertama Bali, kedua baru Jakarta ya. Bahkan ada yang tahunya cuma Bali saja.😃

      Delete
  2. justru itu yang berkesan ya, lagi sayang2nya eh balik ke Indo lagi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba Anita.. jadinya melow banget deh.. hehehe

      Delete
  3. Akutu punya impian pengeeeen banget ngerasain tinggal di LN Krn ada tugas suami misalnya :D. Tp syangnya diksh rezeki cuma bisa mengunjungi, tp tidak menempati :D.

    Ngeliat adekku yg bbrp kali ikut suaminya penempatan di Korsel dan jepang, duuuuh itu envy banget. Walopun kemudian, dipikir2, enak juga kalo si adek dikirim penempatan lagi, akukan bisa LBH hemat akomodasi ekwkwkwkwkwk.

    Tp memang rempoooong ya mba masalah pindahannya, pas datang dan pergi. Belajar dr pengalaman mertua, yg diplomat dan udah berapa kali penempatan pindah2.kalo dgr cerita mama mertua, kayaknya aku g yakin jg bisa ngatur itu hihihihi...

    Mungkin itu kali yaa, Allah ngasih rezekinya cuma utk berkunjung alias trveling :D

    ReplyDelete

Selamat datang! Terima kasih telah berkunjung.

Komen yuuk.... :)

Cara isi komentar::
Pilih NAME/URL lalu isi dengan URL blog. URL blog yaa... jangan url postingan. Terima kasih temaan.... :-*

@deravee

Subscribe