Kepadamu Hujan Kupersembahkan

Friday, October 21, 2016

Hujan yang turun adalah teman baginya dan diriku. Si kecil yang selalu menemani hari-hariku di peraduan. Sambil menunggu kepulangan ayahanda. Dari tempatnya mencari nafkah. Cuaca kini tak menentu. Kadang panas kadang hujan. Selagi terang lalu tiba-tiba menyuram. Kami pun bersiap menanti datangnya hujan. Menjemput pakaian dari barisannya di luar. Mengambil baskom sebelum tetesan bocor menyinggung dasar.

Bila hujan datang, aku juga bersiap mendengar permintaannya untuk bermandi hujan. Sekali-sekali aku perbolehkan, tapi tidak di setiap hujan. Itupun bila ananda dalam kondisi betul-betul vit. Hujan, aromamu juga kebisinganmu, mengingatkanku akan keriangan masa kecil seperti apa yang dimintanya. Hujan deras dan angin yang berhembus kencang menjadi penyejuk serta pembawa kebahagiaan. Mendatangkan sebuah orkestra alam tanpa diminta dan menuntut pamrih. 

Hujan, kaulah penyubur tanaman sumber pangan kami. Hujan, berhentilah di saat yang tepat. Agar tiada saudara kami yang berselimut duka. Karena kami tak menanti banjir. Banjir pernah mampir di sini. Cukup sekali menjadi kenangan juga pengingat. Jangan datang lagi ya banjir...

Sebuah puisi untuk hujan kupersembahkan,

Kepada Hujan
--------------------
Hujan datang menyapa kami berdua
Memecah heningnya sunyi di hati
Hujan datang menggoda ananda
Sementara ibu tersadar dan segera berlari

Jemuranku..... jangan sampai basah!
Batin ibunda
Ibu.... aku ingin keluar, bolehkah?
Rengek ananda

Gemerisik hujan mulai menderu
Rintik air mulai menari
Menyeruak di antara panasnya hari
Membasuh lembut tanah dan rumput
Dan semilir angin datang menyambut
Menyapu peluh ibu setelah menyelamatkan para baju
Ucap syukurnya atas nikmat hujanMu

Ibu pun terbayang
Sejenak berbaring melepas lelah
Tiba-tiba ia pun terhenyak
Pintu sudah terbuka lebar
Di mana ananda?

Ternyata...
Sebuah perhelatan telah berlangsung di luar sana
Sang anandalah bintangnya

Menghentak genangan

Memutar payung

Dalam iringan nada-nada hujan siang itu

Asyiikk... soraknya bergembira
Terima kasih Tuhan sang pemilik hujan
Alhamdulillahirabbil'alamin
We love the rain

puisi hujan

puisi hujan

dancing in the rain

Mami dan Gavin,
21.10.16

Baca Juga: Rindu Yang Selalu Terbentang

- Pemenang hiburan Giveaway "Cerita Hujan" agungrangga.com -
https://agungrangga.com/2016/10/31/pemenang-giveaway-cerita-hujan/

Alhamdulillah

You Might Also Like

11 comments

  1. Puisinya bagus mbak, anak2 tuh suka kalau hujan2 an, saya dulu juga suka tapi kenapa selalu dilarang, dan sekarang saya juga ngelarang anak2 mandi hujan, hehe takut masuk angin

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi makasih ya mba Prita... iya emang dag dig dug, makanya aku bolehinnya juga jaraang banget..katanya sekalian yang hujannya deres kalau mau aman, anaknya juga udah dipastiin vit. abis main ujan langsung mandi anget n minum susu hehe

      Delete
  2. Dan seharian kmrn hujan bikin baper dan males gerak

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekali-sekali sah kok mager, ntar sekalinya main pasti zauh-zauhh

      Delete
  3. Mak Dew ternyata puitis juga yaaaahhh♥ Hihihihiii. Itu gavin happy banget deh pasti main ujan-ujanan yaaaaaaa

    ReplyDelete
  4. Halo, Mbak Dewi!
    Selamat ya, tulisan ini menang dalam Giveaway "Cerita Hujan"!
    https://agungrangga.com/2016/10/31/pemenang-giveaway-cerita-hujan/
    Silakan cek email dan balas email dari saya ya, ditunggu~ :D

    ReplyDelete
  5. Hadiah pulsanya sudah dikirim ya Mbak~ :D

    ReplyDelete

Komen aja nggak papa kok jangan malu-malu. Pilih NAME/URL dan isi dengan URL blog ya, jangan url postingan. Terima kasih temaan....

@deravee

Subscribe