Testimoni Menumpang Taksi Uber

Tuesday, September 15, 2015

Testimoni naik Uber : Puas 
Sebenernya saya baru sekali naik Uber, belum ada pembanding dengan 2 atau 3 perjalanan lainnya, tapi testimoninya puas banget. Ibarat ketemu cowok idaman, semacam Love at The First Sight. Jadi semua kenyamanan yang saya cari sebagai penumpang saya dapatkan pada saat itu, jatuh cinta deh.

Pondok Kopi - Cempaka Putih

Sabtu, 12 September 2015 saya dan Gavin ada acara di kedai Domino's Pizza di daerah Cempaka Putih bersama geng Theurbanmama. Rencana berangkat kesana bareng sama teman namanya Petta dan anaknya Alfa. Kebetulan kami sama-sama ngga ada yang mengantar, suami sedang ada urusan.

Jarak Pondok Kopi ke Cempaka Putih cukup jauh. Biayanya akan cukup mahal jika menggunakan taksi yang biasa. Pilihan lain adalah menggunakan busway. Tapi agak repot karena menuju dan dari halte busway ke tempat tujuannya nanti kami harus menggunakan beberapa angkutan umum lagi atau ojeg. Repot juga, karena bawa anak kecil dan Petta juga sedang hamil anak kedua.

"Naik Uber aja Kak, gimana?" Petta mengajukan opsi pada saya. "Boleh Pet", sambut saya, "Tapi Petta aja ya yang pesen", "Oke Kak", katanya.

 
Wah ini dia solusi hemat dan juga nyaman yang kami butuhkan. Petta pun memesan taksi Uber melalui aplikasi Uber pada tanggal kita janjian. Pemesanan Uber harus dilakukan just in time. Mengapa? Karena Uber menerima order dan menjemput penumpang sesuai lokasi yang ditunjuk penumpang di GPS (Global Positioning  System) pada saat itu.

Ada 3 Perangkat Utama Yang Harus Dimiliki Calon Penumpang Untuk Memesan Uber, yaitu:
1. Smartphone - beserta pulsa dan kuota internetnya.
2. Kartu Kredit.
3. Aplikasi Uber yang sudah diunduh pada smartphone.
 

Kalau kamu sudah punya aplikasinya, langkah pertama harus mendaftar dulu agar mempunyai akun Uber. Pada saat mendaftar akan diminta juga untuk submit data kartu kredit yang dimiliki. Kalau sudah punya akun, dan ingin memesan Uber, buka aplikasi, pilih jenis layanan, pilih driver dengan posisi terdekat dari posisi kamu, kemudian tentukan lokasi kamu akan dijemput. Sebenarnya ada beberapa layanan yang dipilih, untuk yang ekonomis pilih UberX, mau yang mahal, tinggal pilih layanan dengan armada premium. Kalo kami jelas pilih yang ekonomis dong, memang  niatnya cari yang murah meriah.

uber jakarta
Aplikasi Uber dan pilihan jenis layanan (Sumber: Screenshot dari handphone pribadi)

Lalu hari Sabtu pagi saya berangkat menuju tempat janjian. Tak lama Petta datang, tetapi belum bersama Uber. Ternyata Petta tidak meminta Uber untuk menjemput di rumahnya. Tetapi di Pondok kopi, tempat kami bertemu, tepatnya di depan stasiun kereta api Klender Baru, Jakarta Timur. Agar mempermudah komunikasi, Petta SMS-an dengan driver. Nomor hp-nya bisa dilihat waktu kita memilih driver. Makanya selain kuota internet, harus sedia pulsa juga, untuk jaga-jaga kalau harus ngasih info secepatnya.
 

Uber yang dinanti pun datang, mobilnya adalah Xenia putih model baru. Hap, kami naik ke mobil dan memberi tahu kemana tujuan kami kepada driver lalu ngobrol sedikit soal Uber. Perjalanan berlangsung nyaman, AC-nya dingin, dalamnya bersih, drivernya sopan serta cara membawa mobilnya juga enak. Sampai di tujuan, tinggal turun dan menutup perjalanan pada aplikasi. Karena pembayaran biaya Uber akan dipotong lewat kartu kredit, maka driver Uber tidak akan menerima bayaran tunai, jadi tidak ada transaksi menggunakan uang. Enaknya menggunakan Uber, estimasi besaran biaya perjalanan sebelumnya dapat dilihat pada aplikasi. Sehingga bisa terlebih dahulu mengetahui berapa biaya yang harus disiapkan. Kalau begini tentu aman di kantong, tenang di hati kan *halah*.


uber jakarta
Smartphone andalan sang driver untuk mengoperasikan layanan Uber (Foto: pribadi)

Bayarnya Murah Banget
Tarif perjalanan kami dari Pondok Kopi, Jakarta Timur sampai Domino's Cempaka Putih, Jakarta Pusat adalah 38.500 Rupiah saja. Murah banget! Nanti rincian perjalanan akan dikirimkan ke e-mail pemesan Uber, lengkap cuy! Jangan lupa untuk memberikan peringkat kepada driver. Hal tersebut akan menjadi feedback yang berharga sekali buat driver dan Uber tentunya. 

Tarif sekian dengan jarak tempuh tersebut, tanpa berbagi biaya pun menurut saya masih jauh lebih hemat dibandingkan dengan naik taksi biasa. Apalagi saya bayarnya bagi dua sama Petta, ringan banget deh. Love at the First Sight-kan?! Dengan tarif yang murah, armada serta supir yang nyaman, dan sistem yang mudah, tentu memuaskan pelanggan. Juga tidak perlu repot ubek-ubek dompet mencari uang pas untuk membayar.

Pengalaman saya beberapa kali naik taksi, drivernya tidak memiliki uang kembalian. Lalu saya terpaksa menunggu driver menukar uang menjadi pecahan yang lebih kecil untuk uang kembalian. Hal Ini tentu menghabiskan waktu. Sudah gitu kalau saya suka H2C (harap-harap cemas) naik taksi biasa, nanti berapa ya tarifnya. Walaupun kalau naik taksi biasa, artinya kita sudah mengorbankan merelakan uang kita akan melayang sekian, tapi tetep aja, deg deg serr lihat argo ((malu deh)).


Kelebihan dan Kekurangan
(+) Kalau saya merasa untung banget. Mau lagi deh naik Uber, irit.
(+) Menambah pilihan akomodasi berupa taksi. Karena di waktu tertentu (peak season) kadang susah mendapatkan taksi umum.
(+) Menurut saya peluang menjadi Uber is very good. Berhubung menjadi driver Uber tidak terikat jam kerja maupun target setoran. Driver bisa online kapan saja sesuai waktu luangnya, artinya saat siap menerima pesanan, tinggal online di jaringan Uber. Jadi kalau ada mobil pribadi dan sedang senggang, kesempatan bagus untuk menjadi pelaku jasa Uber, lumayan. Lebih oke lagi buat kamu yang kerja kantoran, bisa mencari penumpang sekalian pulang.

(-) Sayang pembayarannya saat ini baru tersedia via kartu kredit. Hanya yang punya kartu kredit yang bisa naik Uber.
(-) Minusnya untuk pengusaha taksi umum, pelanggan bisa pindah ke hati Uber.

Sekian dulu testimoni dari saya. "Kemana lagi ya kita Pet?" Asik juga nih jalan bareng naik Uber lagi. Tapi aku belum punya kartu kredit, hiks hiks. Pinjem sama Papi apa bikin rekening sendiri saja ya #kode.

See you again,
@deravee


You Might Also Like

10 comments

  1. mba dewi..saya di Pondok Kopi juga..salam kenal ya ..

    wah kapan2 bisa barengan ya kita...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah deket mba, salam kenal juga ya mb Fitri:) iya yuk bareng mba, he2. Smg kpn2 bersua ya mba

      Delete
  2. Hallo mbak, aku di jakasampurna. Ya ga gitu jauh juga. Hehehehe
    Iya yah, sayang nya pake cardit sih. Aku ga punya kardit.
    Sampe skrg masih fans berat gojek mak, soale bayarnya pake kredit gojek yg selalu bertambah dgn referral, jadi sama aja gratististis.

    Salam kenal mak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mak Ratu, salam kenal:) iya ga tlalu jauh, hihi. Smp q malah di jakapermai. Wah mantep tuh mak, nambah trus kredit gojeknya. Yuk main sini pake gojek, hehe

      Delete
  3. Dengar-dengar Ok memang ya (belum pernah)
    Cuma sepertinya agak kontradiktif juga, maksudnya, terima pembayaran dari kartu kredit, tapi dengan kelembagaan-alamat-revenue yang tak jelas, trus tax-nya? Jadi tidak fair dengan taksi lain yang bayar pajak. Just saying :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang kontra dg taksi umum nih hehe. ijinnya setau sy ada tapi soal tax nya memang blm tau jelasnya

      Delete
  4. aku juga sukaa naik Uber, udah beberapa kali. Sampai saat ini memang Uber belum legal sih, tapi bukan ilegal juga, karena belum ada peraturan yang mengatur kendaraan umum model begini, tapi semoga ke depannya pemerintah segera mengambil tindakan. Secara Uber ini cukup memudahkan dan membuat irit pengeluaran sih, hehehe. nice share mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak ya mak, irit:D mak isti pasti lebih tau nih, ok semua mak bbrp kali naik drivernya?

      Delete
  5. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Komen aja nggak papa kok jangan malu-malu. Pilih NAME/URL dan isi dengan URL blog ya, jangan url postingan. Terima kasih temaan....

@deravee

Subscribe