Belajar dari Tanah Surga Katanya

Saturday, October 18, 2014

Kolam Susu
Oleh. Koes Plus

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jalan cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Bukan lautan hanya kolam susu
 

Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkah kayu dan batu jadi tanaman

* * *

Kolam Susu, lagu lawas milik Koes Plus, grup musik legendaris Indonesia tersebut akhir-akhir ini selalu menemani saya beraktivitas, kadang terngiang di kepala, kadang spontan saya menyanyikannya. Enak juga lagunya, mudah dinyanyikan dan liriknya sarat makna. Ya, liriknya menggambarkan bagaimana negeri kita memiliki kekayaan alam yang melimpah.

Berawal  dari anak laki-laki Saya yang berusia 3 tahun, Gavin, yang jatuh hati pada film layar lebar nasional “Tanah Surga….katanya” film besutan Deddy Mizwar yang berhasil meraih beberapa penghargaan Piala Citra pada Festival Film Indonesia (FFI) 2012 (sumber:wikipedia.org). Karena kegemarannya, hampir setiap hari Gavin meminta saya memutarkan film ini pada jam istirahat atau jam leyeh-leyehnya Mami dan Gavin yaitu sebelum tidur siang (sekitar jam 1-2 siang). Dan lagu “Kolam Susu” menjadi OST (Original Sound Track) film ini. Kami pun kerap menyanyikan lagu tersebut bersama-sama.


   Hutan tropis, salah satu kekayaan alam Indonesia (Doc:Tanah Surga...katanya, 2012)

Jujur emaknya bosen muterin film ini terus, hehehe… Ternyata memang begitulah karakter anak-anak jika sudah menyukai film (cerita) atau tayangan televisi tertentu ya, maunya berulang-ulang nonton itu lagi itu lagi. Kok Gavin berat amat film favoritnya? film layar lebar bok... Sebenarnya Gavin sama saja seperti layaknya anak kecil seusianya, gemar menonton film kartun ataupun tayangan mengenai anak-anak. Favorit Gavin di antaranya serial kartun Upin-Ipin, Si Entong, Barney and Friends juga Hi-5. Tetapi memang saya sebagai ibunya tidak membiasakan Gavin berlama-lama duduk di depan tv. Saya tetap menginginkan pada periode emasnya (golden age), Gavin banyak belajar dan mengeksplorasi lingkungannya melalui aktivitas-aktivitas interaktif.

“Tanah Surga…katanya” merupakan film drama yang turut dibumbui dengan adegan-adegan komedi dengan latar di suatu dusun yang terletak di perbatasan Indonesia (Kalimantan Barat) dengan Malaysia (Serawak). Ceritanya menggambarkan sebuah keluarga kecil dan segelintir rakyat Indonesia yang tinggal di wilayah perbatasan berjuang dalam keterbelakangan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dengan ironisme negara tetangga yang jauh lebih memberikan pengharapan bagi masa depan mereka sendiri sebagai Warga Negara Indonesia . Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam kesederhanaannya beserta unsur komedi yang terdapat pada film inilah yang membuat Gavin dengan mudah menyimak serta mencerna cerita yang disampaikan. Pun saya turut mendampingi sepanjang film berputar sambil menjawab celotehan-celotahan dari Gavin tentang apa yang dilihatnya.
 
Papan penanda perbatasan Indonesia-Malaysia (Doc:Tanah Surga...katanya, 2012)

 
Area pos perbatasan, sederhana dan tanpa penjagaan ketat (Doc:Tanah Surga...katanya, 2012)

Saya tidak bermaksud menuliskan sinopsis lengkap film “Tanah Surga…katanya” disini, sekadar berbagi bagaimana film ini dapat memberikan beberapa pelajaran baru bagi Gavin tentang nasionalisme maupun diri saya. Film ini membuat hati saya terenyuh akan keadaan saudara sebangsa di wilayah perbatasan di pedalaman Kalimantan. Saya juga menyukai suguhan drama komedi yang disampaikan dan menikmati alunan-alunan musik yang indah nan megah sepanjang film.

Selain lagu “Kolam Susu” lagu kebangsaan juga melatari film ini, yaitu lagu “Tanah Air” serta “Indonesia Raya”.  Alhasil sekarang Gavin punya tambahan hafalan lagu, walaupun belum bisa menyanyikan liriknya secara sempurna:) . Lucuu... banget dengerin Gavin nyanyi-nyanyi kolam susu, karena suaranya yang imut-imut dan cempreng, bikin maminya ketawa-ketiwi sendiri. Dari film ini Gavin juga mengenali warna bendera pusaka negara kita yaitu merah-putih. Langsung deh setiap ketemu bendera merah-putih Gavin begitu antusias menunjuk-nunjuk dan memberitahukan kepada mami atau papi. Pada suatu adegan, Gavin juga memahami bahwa bangsa kita memiliki keterampilan yang hebat dalam membuat kerajinan tangan. Gavin pun berucap “ibu-ibunya jago ya mi bikin tas”. Sering juga Gavin meminta kepada Saya untuk diceritakan sebagian dari adegan-adegan film sebagai pengantar tidur, biasanya saya menuturkan beberapa kalimat, lalu saya tanyakan pada Gavin apa kelanjutan ceritanya. Interaksi mendongeng seperti ini bagus sekali karena dapat membantu mempertajam ingatan anak.

Secara keseluruhan, film ini menampilkan beragam permasalahan yang dialami penduduk di wilayah perbatasan akibat keterbelakangan pembangunan dan ekonomi, dengan pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa walaupun Indonesia adalah tanah surga, yang artinya memiliki kekayaan alam yang melimpah, tetapi kesejahteraan rakyat belum merata dan pesan utama yang terkandung pada film ini adalah “Apapun yang terjadi, jangan sampai kehilangan CINTA  pada negeri ini. @deravee

You Might Also Like

0 comments

Komen aja nggak papa kok jangan malu-malu. Pilih NAME/URL dan isi dengan URL blog ya, jangan url postingan. Terima kasih temaan....

@deravee

Subscribe